You are currently browsing the monthly archive for April 2009.
Tiga tindakan yang patut kita lakukan dari sekarang, yaitu:
- Reduce, adalah sebuah tindakan (action) dalam wujud mengurangi segala hal yang mengakibatkan sampah. Sebagai contohnya yaitu mengurangi penggunaan kertas untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, dimana saat ini telah semakin berkurangnya hutan yang ada di bumi kita. Semakin sedikit penggunaan kertas, maka penggundulan hutan (karena bahan baku kertas adalah kayu) akan berkurang.
- Reuse, adalah menggunakan kembali bahan yang masih dapat dipakai. Misalnya, kertas bekas dokumen. Untuk mencatat atau merekam (print atau copy) dokumen yang tidak terlalu penting dapat menggunakan kertas bekas dimana bagian halaman yang lain masih kosong.
- Recycle, adalah mendaur ulang sampah untuk dijadikan komoditas yang sama atau dalam bentuk lain. Komoditas yang sama, artinya bahan baku plastik dijadikan plastik kembali, atau bahan baku kertas dijadikan kertas lagi meskipun dalam fungsi yang berbeda. Untuk komoditas lain bisa dalam wujud kerajinan tangan (craft) yang mempunyai nilai seni tinggi.
Jika anda pergi ke Mall atau pusat perbelanjaan, harap gunakan kantong yang berdaya guna tinggi artinya yang bisa digunakan untuk berkali-kali pemakaian. Sehingga penumpukan sampah dapat semakin berkurang karena kita jeli dan cermat ikut menyelamatkan bumi kita. Tahukah anda, untuk pembuatan plastik dengan berat kurang lebih setara dengan sebuah cartridge printer laser (3 kg) menghabiskan 1 galon minyak bumi. Jika kita semua mampu mengurangi sampah plastik, sudah berapa galonkah kita mampu menghemat minyak bumi. Itu belum efek yang ditimbulkan dari proses pabrikasi dan penanganan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Sungguh luar biasa, jika kita semua mampu melakukan 3 R tersebut dari sekarang dan ditambah dengan aksi penanaman 1 pohon untuk 1 orang. Selamatkan Bumi kita, untuk masa depan anak-cucu kita..
Pernahkah anda sadari bahwasanya cukup berbahaya memarkirkan mobil anda di bawah sinar matahari. Selain karena terasa panas, juga anda beresiko keracunan Benzene. Anda tentu akan mencium aroma plastik terbakar, itulah aroma benzene.
Darimanakah Benzene ini berasal? Menurut hasil penelitian, dashboard mobil, sofa, air freshener akan memancarkan Benzene, hal ini bisa disebabkan oleh suhu ruangan yg meninggi,hati2 bila mencium bau plastik terbakar di dalam mobil anda.
Tingkat Benzene yang dapat diterima dalam ruangan adalah 50 mg per sq ft. Sebuah mobil yg parkir di ruangan dengan jendela tertutup akan berisi 400-800 mg dari Benzene. Jika parkir di luar rumah di bawah sinar matahari pada suhu di atas 60 derajat F, tingkat Benzene berjalan sampai 2000-4000 mg, 40 kali dengan tingkat yang dapat diterima .. Orang-orang di dalam mobil pasti akan menyedot kelebihan jumlah toksin.
Bahaya Benzene
Efek singkat menghirup high level benzene dapat mengakibatkan kematian, sedangkan menghirup low level benzene dapat menyebabkan kantuk, pusing, mempercepat denyut jantung, sakit kepala, tremors, kebingungan, dan ketidaksadaran. Long term efeknya bisa menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang dan dapat menyebabkan penurunan sel darah merah, yang mengarah ke anemia. Ia juga dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan dan menurunkan system kekebalan, meningkatkan kesempatan infeksi, menyebabkan leukemia dan lainnya yang terkait dengan kanker darah dan pra-kanker dari darah. Benzene adalah toksin yang menyerang hati, ginjal, paru-paru, jantung dan otak dan dapat menyebabkan kerusakan kromosonal. Saat ini sedang diadakan penelitian tentang pengaruh benzene terhadap tingkat kesuburan pria dan wanita. Benzene adalah racun yg berbahaya karena tubuh kita kesulitan untuk mengeluarkan jenis racun ini. Karena itu sangat disarankan agar Anda membuka jendela dan pintu untuk memberikan waktu pada udara yg ada di dalam agar keluar sebelum Anda masuk.
Setelah membaca artikel di koran jadi tambah bangga sekali menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak, keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh tanah tercinta ini begitu beragam. Kekayaan yang ada di perut bumi Indonesia pun cukup banyak. Tapi sayang beribu sayang, hanya sedikit yang mampu kita rasakan, yang mampu tereksplorasi dengan kemampuan tangan-tangan putra-putri bangsa kita sendiri.
Tak sedikit hasil tambang yang dikeruk untuk memperkaya negeri-negeri luar sana, hingga menyebabkan kita menjadi miskin. Sebuah penjajahan wujud baru dengan nama PMA (Penanaman Modal Asing).
Tak sedikit pula hasil bumi yang terkuras, dengan tujuan ekspor. Tapi tak sedikit pula kita balik mengimpor barang yang telah jadi dari hasil bumi kita sendiri. Berapa banyak ton kita mengekspor coklat, lada, dll. Tapi lebih banyak lagi yang kita impor produk hasil jadi dari hasil bumi tersebut.
Otak kita memang sudah teracuni segala macam virus. Virus yang cukup berbahaya, virus kehilangan kreativitas.
Saat terjadi kenaikan harga gandum, berapa rupiah lebih yang harus kita keluarkan untuk membeli terigu. Saat kedelai berangsur naik, tak sedikit rupiah yang harus dikeluarkan untuk membeli tahu dan tempe.
Sebenarnya tanah kita ini tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman (lirik Lagu Koes Ploes).
Sungguh tercengang sekali ketika saya membaca kelebihan yang dimiliki oleh buah sukun (Artocarpus communis). Kandungan karbohidrat yang tinggi, disertai dengan kandungan protein serta enzim-enzim yang baik bagi tubuh tapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai kejadian Hak Paten Tempe terulang lagi.
Masih inginkah kita menangisi dan meratapi hak dan kekayan bangsa kita diakui dan dipatenkan oleh bangsa lain??
Berikut cuplikannya dari www.lampungpost.com
Menurut Dr. Sri Widowati, peneliti di Balai Besar Pascapanen Pertanian, sukun kaya karbohidrat. “Untuk substitusi beras, satu buah sukun cukup untuk 3 orang,” ujar doktor Ilmu Pangan alumnus Institut Pertanian Bogor itu.
Bobot satu buah sukun rata-rata 1.500 gram. Setelah dikupas, daging buah yang bisa dimakan 81,21% atau 1.350 g. Kandungan karbohidrat sukun 27% setara 365 g. Bandingkan dengan beras yang berkadar karbohidrat 79%. Konsumsi nasi sekali makan rata-rata 150 g. Itu setara 118 g karbohidrat. Jadi satu buah sukun menggantikan jatah konsumsi beras untuk 3 orang. Padahal, produksi pohon berumur lima tahun saja mencapai 150 buah setahun.
Kaya Vitamin
Kerabat beringin itu juga kaya vitamin dan mineral yang diperlukan dalam metabolisme tubuh (lihat tabel). Nilai kalori sukun juga lebih rendah daripada beras, sangat cocok untuk program diet. Dengan kandungan gizi melimpah, sukun layak sebagai pangan alternatif. “Harusnya tidak ada lagi kasus kelangkaan pangan di Indonesia. Cukup tanam sukun di halaman rumah, cadangan pangan pun terjamin,” ujar Sri Widowati.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) 37 juta masyarakat Indonesia kelaparan. Artinya, 16,6% dari 223 juta total penduduk gagal memenuhi kebutuhan energi untuk menopang kegiatan sehari-hari akibat kelaparan. Kondisi itu memprihatinkan. Bandingkan dengan Vietnam yang belum lama tercabik perang saudara, hanya 14,3% atau 11,9 juta jiwa yang defisit pangan. Padahal, Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat alternatif.
Sukun bisa jadi solusi. Sukun dapat ditanam di pekarangan atau tanaman sela di kebun. Kini sentra sukun di antaranya Cilacap (Jawa Tengah), Gresik dan Kediri (Jawa Timur), serta Bone (Sulawesi Selatan). Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian mencatat produksi sukun pada 2005 mencapai 73,637 ton meningkat menjadi 88,339 ton (2006), dan 92,014 ton (2007).
Penanaman itu bukan hanya karena sukun layak sebagai pengganti beras. Jika rencana pemerintah membangun jalan tol trans-Jawa antara Anyer dan Banyuwangi terwujud, setidaknya 600 ha sawah bakal terkonversi menjadi jalan raya. Dengan produksi rata-rata 6 ton gabah kering per ha, potensi kehilangan hasil mencapai 3.600 ton per musim tanam. Padahal, dalam setahun petani bisa panen 2–3 kali.
Potensi kehilangan itu antara lain dapat ditanggulangi dengan penanaman sukun. Menurut Prof. Dr. Sutardi, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, upaya penanaman sukun harus diikuti dengan kampanye pangan alternatif. Selama ini banyak orang berpendapat, belum makan jika belum mengunyah nasi.
Tepung
Jika diolah, sukun tak kalah lezat dengan beragam penganan berbasis karbohidrat. Mari lihat Agnes Murdiati dari Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada. Ia membuat beragam penganan seperti burger, spageti, kroket, pastel, dan sandwich. Semua berbasis sukun. Malahan Murdiati juga membuat nasi liwet sukun.
Meski memiliki banyak keunggulan ketimbang beras, sukun tetap menyimpan kelemahan. Buah sukun segar tidak dapat disimpan terlalu lama, tidak seperti gabah yang tahan simpan hingga empat tahun. Menyimpan sukun sepekan saja, menyebabkan daging buah lembek.
Apalagi sukun yang sudah dikupas, daging buah berubah kecokelatan akibat oksidasi oleh udara bebas. Daging buah mengandung enzim polifenol oksidase. Bila enzim itu bereaksi dengan oksigen menyebabkan warna daging buah berubah cokelat.
Namun, bukan berarti tak ada jalan keluar. Supaya tahan simpan, sukun dibikin tepung. Menurut Widowati, tepung sukun awet hingga setahun. Selain itu pemanfaatannya juga makin luas. Tepung sukun dapat menggantikan tepung beras atau terigu dalam pembuatan mi, roti, dan aneka kue. Kelebihan tepung sukun antara lain mudah dibentuk dan cepat diolah sesuai dengan tuntutan kehidupan modern yang serbacepat.
Proses pembuatan tepung sukun cukup sederhana. Untuk menghindari perubahan warna menjadi cokelat, usahakan sesedikit mungkin kontak antara bahan dan udara. Oleh sebab itu, rendam buah yang telah dikupas dalam air bersih. Kemudian potong juring 3–4 cm dan kukus selama 10–20 menit. Setelah itu sukun diiris tipis, keringkan dalam oven selama 5–6 jam pada suhu 55–60 derajat Celsius. Bila dengan bantuan sinar matahari, pengeringan selama 1–2 hari. Setelah kering lalu giling dengan hammer mill berukuran penyaring 80–100 mesh.
Tepung Sukun
Tepung putih bersih diperoleh dari buah mengkal yang dipanen 10 hari sebelum tingkat kematangan optimal atau 80–85 hari setelah berbunga. Sukun muda menghasilkan tepung berwarna putih kecokelatan. Rasanya agak pahit karena kadar getah masih tinggi. Selain itu, saat panen hindari buah jatuh terbentur tanah. Dampaknya tanin di kulit masuk jaringan daging buah sehingga menjadi pahit.
Rendemen tepung sukun 10%–18%. Buah sukun berbobot kotor 1.200 gram, menghasilkan 120–216 g tepung. Tepung itu mengandung 84,03% karbohidrat, 9,9% air, 2,83% abu, 3,64% protein, dan 0,41% lemak. Kandungan protein tepung sukun juga lebih tinggi dibanding dengan tepung ubi kayu, tepung ubi jalar, dan tepung pisang yang berturut-turut hanya 1,6%, 2,16%, dan 3,05%.
Menurut hemat saya, ada baiknya pemerintah menggalakkan penghijauan dengan penanaman pohon sukun. Duan pohon per KK di lingkungan sekitar rumah. Jadi sebagai antisipasi kelangkaan terigu dan beras. Kapan lagi kita akan bertindak?
Baru saja selesai di negeri kita tercinta sebuah pesta demokrasi yang bernama PEMILU untuk memilih wakil-wakil rakyat di tingkat pusat, daerah tingkat 1 dan 2. Sebuah upaya bangsa kita dalam membentuk sistem pemerintahan melalui pemungutan suara dengan memilih langsung siapakah calong anggota legislatif yang “disukai” oleh masyarakat.
Tak sedikit masyarakat kita yang dibingungkan oleh sistem Pemilu saat ini, selain jumlah partai yang cukup banyak hingga membuat kita bingung jumlah calong anggota legislatif (disingkat Caleg) pun membuat kita semakin bingung manakah yang layak dipilih. Jumlah yang cukup luar biasa tersebut menambah sebuah masalah lagi, masyarakat bingung untuk melipat kertas suara karena ukurannya yang cukup luar biasa besar.
Selain masyarakat yang bingung, ternyata tak sedikit pula para Caleg yang semakin bingung untuk menentukan langkah selanjutnya akibat perolehan suara yang di bawah batas pencapaian kursi. Hingga tak sedikit yang mengalami gangguan kesehatan, jiwa dan raga. RSJ pun sudah menyiapkan ruangan VIP khusus melayani para Caleg yang bingung karena perolehan suara yang kurang signifikan (di bawah ambang batas). Banyak pondok pesantren yang mulai menampung para Caleg “bingung“. Tak sedikit pula Caleg yang bingung menghembuskan nafasnya yang terakhir (meninggal dunia) setelah melihat perolehan suaranya.
Panitia pemungutan suara pun dibuat bingung dengan sistem Pemilu saat ini. Persiapan Pemilu yang cukup menguras tenaga dan pikiran, hingga akhirnya saat perhitungan suara pun mereka harus bekerja ekstra keras hingga melupakan waktu dan kesehatan mereka.
Pernahkah kita sadari, bahwa sebetulnya yang paling diuntungkan pada sistem Pemilu kali ini adalah Partai. Mari kita mulai hitung-hitungan sederhana, pertama setiap Caleg yang ingin mendaftar pada sebuah partai harus “menyetor” dengan tarif tertentu harga sesuai dengan popularitas partai, semakin tinggi popularitas maka semakin tinggi juga tarif yang dikenakan. Kedua, jumlah Caleg yang mendaftar tiap Partai lumayan besar tinggal kita hitung saja jumlah orang x biaya perorang = pemasukan partai.
Ketiga, semakin banyak Caleg yang mendaftar selain makin banyak dana yang masuk ke Partai juga semakin banyak suara yang mampu terjaring di Partai sehingga Partai “tidak” mengalami kesulitan yang berarti untuk menjaring suara, dengan syarat Caleg harus punya masa banyak (memiliki popularitas tinggi).
Keempat, Partai akan sedikit mengeluarkan “modal” kampanye karena biasanya para Caleg itulah yang sudah berkampanye dengan dana, cara, dan simpatisan sendiri. Biasanya partai hanya membantu sekenanya saja.
Apa maksud dari itu semua??Tak lain adalah sebuah bisnis Pemilu, prinsip ekonomi pun digunakan yaitu dengan modal sedikit untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Partai mampu menjaring suara yang banyak untuk mendapatkan jatah kursi yang diperebutkan diparlemen untuk kemudian dibagi-bagikan sesuai dengan rangking yang didapat oleh para Caleg. Sehingga Caleg yang tidak mempunyai masa dan sedikit popularitas ikut andil membesarkan Partai dengan mensedekahkan “sebagian” harta dan suara untuk menjaring kursi yang ada.
Cukup aneh memang, jumlah suara di Indonesia hanya 17 jutaan dengan total caleg dan partai yang cukup besar dan semua Caleg merasa optimis dapat mengantongi suara minimum untuk dapat kursi dengan dalih memiliki masa yang banyak, tapi apa yang terjadi sekarang? Tak sedikit Caleg dengan suara minim hanya mampu meratapi total suara yang sangat minim.
Para Caleg dengan suara minim inilah yang menjadi korban dari Partai, korban dari segala kekurangan yang dimiliki Partai. Menyebabkan tidak sedikit yang semakin bingung harus bagaimana mengembalikan “dana” bisnis mereka saat Pemilu selesai. Para Caleg terpilih pun sudah barang tentu bisa bernafas lega, dan tentu tidak bingung berkepanjangan karena “modal” bisnis saat Pemilu bisa segera dilunasi dan tentunya akan mendapatkan untung yang berlipat. Asalkan tidak ditangkap KPK, dan lincah serta cerdik dalam menjalankan “bisnis”nya.
Dahulu setiap Pemilu tiba yang paling diuntungkan setiap kampanye adalah: percetakan, advertising, media informasi (cetak, televisi, radio dan internet), tetapi sekarang terjadi pergeseran. Rumah Sakit Jiwa, Pondok Pesantren, Pengobatan Alternatif pun mendapatkan keuntungan saat Pemilu telah selesai.
Inilah pesta Demokrasi, Partai berpesta tapi Caleg yang merugi. Bertaubatlah para Caleg, dan mohon petunjuk yang Kuasa Illahi Robb agar dikuatkan imanmu saat terpilih maupun tidak terpilih.

Komentar Terakhir