logo-pemiluBaru saja selesai di negeri kita tercinta sebuah pesta demokrasi yang bernama PEMILU untuk memilih wakil-wakil rakyat di tingkat pusat, daerah tingkat 1 dan 2.  Sebuah upaya bangsa kita dalam membentuk sistem pemerintahan melalui pemungutan suara dengan memilih langsung siapakah calong anggota legislatif yang “disukai” oleh masyarakat.

Tak sedikit masyarakat kita yang dibingungkan oleh sistem Pemilu saat ini, selain jumlah partai yang cukup banyak hingga membuat kita bingung jumlah calong anggota legislatif  (disingkat Caleg) pun membuat kita semakin bingung manakah yang layak dipilih. Jumlah yang cukup luar biasa tersebut menambah sebuah masalah lagi, masyarakat bingung untuk melipat kertas suara karena ukurannya yang cukup luar biasa besar.

Selain masyarakat yang bingung, ternyata tak sedikit pula para Caleg yang semakin bingung untuk menentukan langkah selanjutnya akibat perolehan suara yang di bawah batas pencapaian kursi. Hingga tak sedikit yang mengalami gangguan kesehatan, jiwa dan raga. RSJ pun sudah menyiapkan ruangan VIP khusus melayani para Caleg yang bingung karena perolehan suara yang kurang signifikan (di bawah ambang batas). Banyak pondok pesantren yang mulai menampung para Caleg “bingung“. Tak sedikit pula Caleg yang bingung menghembuskan nafasnya yang terakhir (meninggal dunia) setelah melihat perolehan suaranya.

Panitia pemungutan suara pun dibuat bingung dengan sistem Pemilu saat ini. Persiapan Pemilu yang cukup menguras tenaga dan pikiran, hingga akhirnya saat perhitungan suara pun mereka harus bekerja ekstra keras hingga melupakan waktu dan kesehatan mereka.

Pernahkah kita sadari, bahwa sebetulnya yang paling diuntungkan pada sistem Pemilu kali ini adalah Partai. Mari kita mulai hitung-hitungan sederhana, pertama setiap Caleg yang ingin mendaftar pada sebuah partai harus “menyetor” dengan tarif tertentu harga sesuai dengan popularitas partai, semakin tinggi popularitas maka semakin tinggi juga tarif yang dikenakan. Kedua, jumlah Caleg yang mendaftar tiap Partai lumayan besar tinggal kita hitung saja jumlah orang x biaya perorang = pemasukan partai.

Ketiga, semakin banyak Caleg yang mendaftar selain makin banyak dana yang masuk ke Partai juga semakin banyak suara yang mampu terjaring di Partai sehingga Partai “tidak” mengalami kesulitan yang berarti untuk menjaring suara, dengan syarat Caleg harus punya masa banyak (memiliki popularitas tinggi).

Keempat, Partai akan sedikit mengeluarkan “modal” kampanye karena biasanya para Caleg itulah yang sudah berkampanye dengan dana, cara, dan simpatisan sendiri. Biasanya partai hanya membantu sekenanya saja.

Apa maksud dari itu semua??Tak lain adalah sebuah bisnis Pemilu, prinsip ekonomi pun digunakan yaitu dengan modal sedikit untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Partai mampu menjaring suara yang banyak untuk mendapatkan jatah kursi yang diperebutkan diparlemen untuk kemudian dibagi-bagikan sesuai dengan rangking yang didapat oleh para Caleg. Sehingga Caleg yang tidak mempunyai masa dan sedikit popularitas ikut andil membesarkan Partai dengan  mensedekahkan “sebagian” harta dan suara untuk menjaring kursi yang ada.

Cukup aneh memang, jumlah suara di Indonesia hanya 17 jutaan dengan total caleg dan partai yang cukup besar dan semua Caleg merasa optimis dapat mengantongi suara minimum untuk dapat kursi dengan dalih memiliki masa yang banyak, tapi apa yang terjadi sekarang? Tak sedikit Caleg dengan suara minim hanya mampu meratapi total suara yang sangat minim.

Para Caleg dengan suara minim inilah yang menjadi korban dari Partai, korban dari segala kekurangan yang dimiliki Partai. Menyebabkan tidak sedikit yang semakin bingung harus bagaimana mengembalikan “dana” bisnis mereka saat Pemilu selesai. Para Caleg terpilih pun sudah barang tentu bisa bernafas lega, dan tentu tidak bingung berkepanjangan karena “modal” bisnis saat Pemilu bisa segera dilunasi dan tentunya akan mendapatkan untung yang berlipat. Asalkan tidak ditangkap KPK, dan lincah serta cerdik dalam menjalankan “bisnis”nya.

Dahulu setiap Pemilu tiba yang paling diuntungkan setiap kampanye adalah: percetakan, advertising, media informasi (cetak, televisi, radio dan internet), tetapi sekarang terjadi pergeseran. Rumah Sakit Jiwa, Pondok Pesantren, Pengobatan Alternatif pun mendapatkan keuntungan saat Pemilu telah selesai.

Inilah pesta Demokrasi, Partai berpesta tapi Caleg yang merugi. Bertaubatlah para Caleg, dan mohon petunjuk yang Kuasa Illahi Robb agar dikuatkan imanmu saat terpilih maupun tidak terpilih.