Setelah membaca artikel di koran jadi tambah bangga sekali menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak, keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh tanah tercinta ini begitu beragam. Kekayaan yang ada di perut bumi Indonesia pun cukup banyak. Tapi sayang beribu sayang, hanya sedikit yang mampu kita rasakan, yang mampu tereksplorasi dengan kemampuan tangan-tangan putra-putri bangsa kita sendiri.

Tak sedikit hasil tambang yang dikeruk untuk memperkaya negeri-negeri luar sana, hingga menyebabkan kita menjadi miskin. Sebuah penjajahan wujud baru dengan nama PMA (Penanaman Modal Asing).

Tak sedikit pula hasil bumi yang terkuras, dengan tujuan ekspor. Tapi tak sedikit pula kita balik mengimpor barang yang telah jadi dari hasil bumi kita sendiri. Berapa banyak ton kita mengekspor coklat, lada, dll. Tapi lebih banyak lagi yang kita impor produk hasil jadi dari hasil bumi tersebut.

Otak kita memang sudah teracuni segala macam virus. Virus yang cukup berbahaya, virus kehilangan kreativitas.

imagesSaat terjadi kenaikan harga gandum, berapa rupiah lebih yang harusĀ  kita keluarkan untuk membeli terigu. Saat kedelai berangsur naik, tak sedikit rupiah yang harus dikeluarkan untuk membeli tahu dan tempe.

Sebenarnya tanah kita ini tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman (lirik Lagu Koes Ploes).

Sungguh tercengang sekali ketika saya membaca kelebihan yang dimiliki oleh buah sukun (Artocarpus communis). Kandungan karbohidrat yang tinggi, disertai dengan kandungan protein serta enzim-enzim yang baik bagi tubuh tapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai kejadian Hak Paten Tempe terulang lagi.

Masih inginkah kita menangisi dan meratapi hak dan kekayan bangsa kita diakui dan dipatenkan oleh bangsa lain??

Berikut cuplikannya dari www.lampungpost.com

Menurut Dr. Sri Widowati, peneliti di Balai Besar Pascapanen Pertanian, sukun kaya karbohidrat. “Untuk substitusi beras, satu buah sukun cukup untuk 3 orang,” ujar doktor Ilmu Pangan alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Bobot satu buah sukun rata-rata 1.500 gram. Setelah dikupas, daging buah yang bisa dimakan 81,21% atau 1.350 g. Kandungan karbohidrat sukun 27% setara 365 g. Bandingkan dengan beras yang berkadar karbohidrat 79%. Konsumsi nasi sekali makan rata-rata 150 g. Itu setara 118 g karbohidrat. Jadi satu buah sukun menggantikan jatah konsumsi beras untuk 3 orang. Padahal, produksi pohon berumur lima tahun saja mencapai 150 buah setahun.

Kaya Vitamin

Kerabat beringin itu juga kaya vitamin dan mineral yang diperlukan dalam metabolisme tubuh (lihat tabel). Nilai kalori sukun juga lebih rendah daripada beras, sangat cocok untuk program diet. Dengan kandungan gizi melimpah, sukun layak sebagai pangan alternatif. “Harusnya tidak ada lagi kasus kelangkaan pangan di Indonesia. Cukup tanam sukun di halaman rumah, cadangan pangan pun terjamin,” ujar Sri Widowati.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) 37 juta masyarakat Indonesia kelaparan. Artinya, 16,6% dari 223 juta total penduduk gagal memenuhi kebutuhan energi untuk menopang kegiatan sehari-hari akibat kelaparan. Kondisi itu memprihatinkan. Bandingkan dengan Vietnam yang belum lama tercabik perang saudara, hanya 14,3% atau 11,9 juta jiwa yang defisit pangan. Padahal, Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat alternatif.

Sukun bisa jadi solusi. Sukun dapat ditanam di pekarangan atau tanaman sela di kebun. Kini sentra sukun di antaranya Cilacap (Jawa Tengah), Gresik dan Kediri (Jawa Timur), serta Bone (Sulawesi Selatan). Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian mencatat produksi sukun pada 2005 mencapai 73,637 ton meningkat menjadi 88,339 ton (2006), dan 92,014 ton (2007).

Penanaman itu bukan hanya karena sukun layak sebagai pengganti beras. Jika rencana pemerintah membangun jalan tol trans-Jawa antara Anyer dan Banyuwangi terwujud, setidaknya 600 ha sawah bakal terkonversi menjadi jalan raya. Dengan produksi rata-rata 6 ton gabah kering per ha, potensi kehilangan hasil mencapai 3.600 ton per musim tanam. Padahal, dalam setahun petani bisa panen 2–3 kali.

Potensi kehilangan itu antara lain dapat ditanggulangi dengan penanaman sukun. Menurut Prof. Dr. Sutardi, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, upaya penanaman sukun harus diikuti dengan kampanye pangan alternatif. Selama ini banyak orang berpendapat, belum makan jika belum mengunyah nasi.

Tepung

Jika diolah, sukun tak kalah lezat dengan beragam penganan berbasis karbohidrat. Mari lihat Agnes Murdiati dari Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada. Ia membuat beragam penganan seperti burger, spageti, kroket, pastel, dan sandwich. Semua berbasis sukun. Malahan Murdiati juga membuat nasi liwet sukun.

Meski memiliki banyak keunggulan ketimbang beras, sukun tetap menyimpan kelemahan. Buah sukun segar tidak dapat disimpan terlalu lama, tidak seperti gabah yang tahan simpan hingga empat tahun. Menyimpan sukun sepekan saja, menyebabkan daging buah lembek.

Apalagi sukun yang sudah dikupas, daging buah berubah kecokelatan akibat oksidasi oleh udara bebas. Daging buah mengandung enzim polifenol oksidase. Bila enzim itu bereaksi dengan oksigen menyebabkan warna daging buah berubah cokelat.

Namun, bukan berarti tak ada jalan keluar. Supaya tahan simpan, sukun dibikin tepung. Menurut Widowati, tepung sukun awet hingga setahun. Selain itu pemanfaatannya juga makin luas. Tepung sukun dapat menggantikan tepung beras atau terigu dalam pembuatan mi, roti, dan aneka kue. Kelebihan tepung sukun antara lain mudah dibentuk dan cepat diolah sesuai dengan tuntutan kehidupan modern yang serbacepat.

Proses pembuatan tepung sukun cukup sederhana. Untuk menghindari perubahan warna menjadi cokelat, usahakan sesedikit mungkin kontak antara bahan dan udara. Oleh sebab itu, rendam buah yang telah dikupas dalam air bersih. Kemudian potong juring 3–4 cm dan kukus selama 10–20 menit. Setelah itu sukun diiris tipis, keringkan dalam oven selama 5–6 jam pada suhu 55–60 derajat Celsius. Bila dengan bantuan sinar matahari, pengeringan selama 1–2 hari. Setelah kering lalu giling dengan hammer mill berukuran penyaring 80–100 mesh.

Tepung Sukun

Tepung putih bersih diperoleh dari buah mengkal yang dipanen 10 hari sebelum tingkat kematangan optimal atau 80–85 hari setelah berbunga. Sukun muda menghasilkan tepung berwarna putih kecokelatan. Rasanya agak pahit karena kadar getah masih tinggi. Selain itu, saat panen hindari buah jatuh terbentur tanah. Dampaknya tanin di kulit masuk jaringan daging buah sehingga menjadi pahit.

Rendemen tepung sukun 10%–18%. Buah sukun berbobot kotor 1.200 gram, menghasilkan 120–216 g tepung. Tepung itu mengandung 84,03% karbohidrat, 9,9% air, 2,83% abu, 3,64% protein, dan 0,41% lemak. Kandungan protein tepung sukun juga lebih tinggi dibanding dengan tepung ubi kayu, tepung ubi jalar, dan tepung pisang yang berturut-turut hanya 1,6%, 2,16%, dan 3,05%.

Menurut hemat saya, ada baiknya pemerintah menggalakkan penghijauan dengan penanaman pohon sukun. Duan pohon per KK di lingkungan sekitar rumah. Jadi sebagai antisipasi kelangkaan terigu dan beras. Kapan lagi kita akan bertindak?